Tuesday, April 10, 2007

Kampung Beawi - Setu Babakan

Setu Babakan - Perkampungan Budaya Betawi

Maret 27th, 2007

Betawi Traditional House

Ada yang pernah tau Setu Babakan? Disana terletak sebuah perkampungan budaya Betawi dimana seluruh bangunan dan jajanannya bergaya Betawi

Perkampungan ini terletak di samping sebuat danau yang cukup besar di daerah srengseng sawah lenteng agung. Perjalanan ketempat ini memang cukup jauh jika anda belum terbiasa dan juga melelahkan. Namun semua itu bisa terobati dengan sejuknya duduk di bawah pepohonan yang cukup rindang sambil menikmati jajan betawi seperti sotomie, kerak telor, roti buaya bahkan soto betawi pun di jajakan disini. Cukup banyak keluarga yang menghabiskan siang dan sorenya ditempat ini

Selain sebagai sarana rekreasi tempat ini juga menampilkan arsitektur betawi. Ruma-rumah yang dibangun di daerah ini menggunakan konsep ala betawi tempo dulu namun menggunakan bahan modern. Meskipun begitu tempat ini bisa dijadikan sarana belajar bagi mereka yang ingin mengetahui budaya betawi lebih lanjut karena ditempat ini juga dilaksanakan pementasan budaya betawi setiap Sabtu atau Minggu.

Jadi, sebagai warga jakarta anjuran saya adalah kenali budaya tempat tinggalmu ini lebih dekat lagi sehingga kamu bisa bercerita kepada keluargamu pada saat mudik lebaran :D

Ditulis oleh masdm

Disimpan di Djakarta Tempo Doeloe, Obyek Wisata, Sejarah

 

Dari Wikipedia bahasa Melayu

Jump to: navigation, search

Suku Betawi sebenarnya termasuk dalam kategori pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnik ini lahir dari pelbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu. Ahli Antropologi Universiti Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnik Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893.

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah dipengaruhi kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkahwinan berbagai budaya yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara dan juga kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni muzik Cina, tetapi juga ada Rebana yang berasal dari tradisi muzik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatar belakangkan Belanda.

Secara biologi, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil perkahwinan campur antara etnik dan bangsa di masa lalu.

Seorang budak belian perempuan dari Bali. Diawali oleh orang Sunda, sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Melaka di semenanjung Tanah Melayu, bahkan dari China serta Gujerat di India.

Waktu Fatahillah dengan tentara Demak menyerang Sunda Kelapa (1526/27), orang Sunda yang membelanya dikalahkan dan mundur ke arah Bogor. Sejak itu, dan untuk beberapa dasawarsa abad ke-16, Jayakarta dihuni orang Banten yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon. Sehingga JP Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang Cina, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).

Pada awal abad ke-17 sempadan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mula-mula dibentuk oleh Kali Angke dan kemudian Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar kubu dan tembok kota tidak aman, antara lain kerana gerila Banten dan sisa tentera Mataram (1628/29) yang tidak mahu pulang. Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah bersekutu.

Ketika akhir abad ke-17, daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas. Sementara itu, jumlah orang Belanda masih sedikit. Ini disebabkan hingga pertengahan abad ke-19, wanita Belanda tidak ramai yang ikut serta. Akibatnya, banyak perkahwinan campur berlaku dan melahirkan sejumlah orang Indo di Batavia.

Rencana ini memerlukan kemaskini dalam Bahasa Melayu.
Anda boleh membantu mengemaskinikannya.

Tentang para budak itu, sebagian besar, terutama budak wanitanya berasal dari Bali, walaupun tidak pasti mereka itu semua orang Bali. Sebab, Bali menjadi tempat singgah budak belian yang datang dari berbagai pulau di sebelah timurnya. Orang Tiong Hoa senang main kartu. Lukisan A van Pers dari tahun 40-an abad yang lalu, yang diterbitkan pada tahun 1856 di Den Haag.

Sementara itu, orang yang datang dari Tiongkok, semula hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (mis. Penduduk dalam kota dan ‘Cina Benteng’ di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, mis: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara.

Keturunan orang India -orang koja dan orang Bombay- tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. Banyak diantara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada ke-Arab-an mereka. Di dalam kota, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang Mardijker dari India dan Sri Lanka dan ribuan budak dari segala macam suku. Jumlah budak itu kurang lebih setengah dari penghuni Kota Batavia. Orang Jawa dan Banten tidak diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656.

Pada tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang. Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981 orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa (demikian Lekkerkerker). Gereja Immanuel di Gambir pada pertengahan abad ke 18

Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel. Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota.

Oleh sebab itu, apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu.

Antropolog Univeristas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, di mana dikategorisasikan berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

Rumah Bugis di bagian utara Jl Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang imulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moors, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. foto pada kartu pos dari awal abad ke 20 menggambarkan rumah-rumah Tiong Hoa di Maester. Jalan ke kiri menuju pasar Jatinegara lama. Sedangkan jalan utama adalah Jatinegara Barat menuju arah selatan.

Namun, pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu. Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi - dalam arti apapun juga - tinggal sebagai minoritas.

Pada tahun 1961, ’suku’ Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur datau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.

 

Posted by Daeng Hidayat at 09:54:16 | Permalink | Comments (2)

Monday, April 2, 2007

About Cingkrik Goning-Part 2

tanggal 12 Agustus 2006 di Padepokan Pencak Silat Indonesia, Ruang Latihan Terbuka… Pukul 13.00 WIB

Memang kata orang Betawi punye banyak cerite eh…jadi kebetawi-betawian sih ngomongnya, replay ajah !… Memang Betawi punya banyak cerita dan kenangan, tidak hanya punya kenangan pilu tapi juga banyak kenangan yang indah yang patut di ceritakan kembali seperti beladiri yang satu ini, “Mainan Cingkrik Goning” asuhan Bapak Tb. Bambang dari Bekasi.

Minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam pertemuan kecil di Padepokan Pencak Silat Taman Mini, bersama beberapa rekan dari forum Pelestari Pencak Silat Tradisioal Indonesia untuk mendokumentasikan Mainan dari Betawi Cingkrik Goning, Saya datang 10 menit sebelu jadwal yang di tentukan untuk acara tersebut. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit akhirnya datang juga yang di nanti, Rombongan dari Perguruan Beladiri Betawi Cingkrik Goning datang sesuai yang di jadwalkan, di sambut oleh kami selaku forum dan Pak Oong selaku tuan rumah di padepokan.

Tidak hanya kita yang di sana ternyata ada satu orang asing yang datang sesaat sebelum rombongan itu datang, usut punya usut dia punya nama “Rey” bule dari Amerika yang ikut privat latihan pada Bapak TB. Bambang, dengan bahasa Indonesia yang cukup lumayan dengan ramah ia menyapa dan membuka obrolan sebelum peragaan di mulai. Sedikit cerita, selain sebagai pecinta silat Indonesia dia juga pengamat milis silat bogor juga lho, walau dia masih sungkan untuk angkat bicara dalam diskusi via milis dari nada bicara yang pelan penuh kespanan dia menceritakan pengalamannya mencari Guru silat di Indonesia sampai akhirnya dia belajar “Cingkrik Goning” sekarang.

Sesaat berselang stelah semuanya siap kami akhirnya memulai cara inti, peragaan pertama di lakukan sendiri oleh Guru Besar Cingkrik Goning, dengan bersemangat akhirnya beliau menyelesaikan peragaan ke -12 jurus Cingkrik padahal tadinya cuman 10 lho, di tambah dari muridnya ada 5 jurus yang di peragakan. Dilanjutkan dengan aplikasi beladiri praktis dengan aplikasi teknik-teknik yang cukup unik, sebagai Sebagai sparing partner dari forum di wakili oleh Mas Iwan Setiawan yang kebetulan ikut hadir sebelum berangkat mengajar di tempat yang tidak jauh dari padepokan.

Melihat beberapa teknik yang sempat di peragakan, pasti semua yang hadir merasa tertipu dengan penampilan Bapak TB. Bambang yang kecil dan tidak tinggi namun beliau dengan mudah menjatuhkan lawan sparingnya yang lumayan berat posturnya di banding beliau, tak ayal Mas Iwan yang merasa penasaran ingin menjajal kebolehan sang guru besar, akhirnya lagi-lagi dapat di jatuhkan dengan 1 atau 2 langkah dalam hitungan detik.
Diselingi tawa penonton mereka pun terus mencoba aplikasi teknik dari Mainan Cingkrik terutama si Sparing partner yang terus ingin menghilangkan asa penasarannya walau akhirnya sambil tertawa bersama merka sama-sama menyerah dan menyudahi peragaan itu, terang ajah satu kecapean karena sudah umur dan yang satu lagi sudah jelas kalau dia sudah cukup, mungkin saja kapok ya … karena jatuh-bangun terus, he… jadi kaya lagu…(…”jatuh bangun aku, menyerang mu….”ups maaf…?)

Usai pragaan sambil berbincang kami semua melepas kelelahan dengan tawa, kebetulan ada ada dua tokoh silat lagi yang hadir “Pak Edward” dan “Pak Saukat” dari Tanah Abang yang akrab di kenal sebagai Mr. Popeye julukan yang di berikan oleh orang-orang yang dekat dengan beliau karena tangan beliau yang besar membentuk tangan Popeye si tokoh kartun yang “macho”. Kehadirannya memberikan suasana kehangatan tersendiri karena dari pada pertemuan itu memberika moment tersendiri ke-3 sahabat (Pak Oong, Pak Edward, Pak Saukat) untuk saling curhat dan dari cerita mereka membuat yang muda seperti Saya ikut terbawa dalam tawa.

Sore itu juga kami menyempatkan diri untuk turut mewawancari Pak TB. Bambang selaku guru besar, dari sana kta mendapatkan informasi lansung dari belay seputar cerita mengenai Beladiri Cingkrik Goning yaang dimilikinya. Menurut penutuannya bahwasanya Cingkrik tidak lah ada satu namun ada dua yakni Goning dan Sinan (Cina-an), kedua beladiri ini pun memilik kekhasan masing-masing yang mencolok adalah bahwasanya Cingkrik Sinan tidak hanya mengandalkan teknik kekuatan fisik tapi juga ada unsure tenaga dalam serta mystic, lain halnya dengan Cingkrik Goning yang hanya menggunakan aplikasi teknik fisik semata.

Meski hanya mengandalkan kekuatan fisik Cingkrik Goning mempunyai ciri khas yang patut di perhatikan bagi mereka yang hendak mempelajarinya, yaitu dalam melatih jurus atau gerakan harus lah di latih Kecepatan dan Ketepatan gerak karena itu sangat mendukung pada saat pertarungan menurut pewaris Beladiri Cingkrik langsung dari Engkong Goning yang di sinyalir sebagai pewaris terakhir setelah gurunya wafat.

Bagi yang hendak belajar prosedurnya tidaklah sulit bahkan terjangkau biayanya bagi kalangan bawah dengan iuran perbulan yang tidak mahal, apabila serius berlatih akan mendapat pelajaran sesuai dengan kurikulum perguruan; Jurus dasar (1-12), Jurus bantingan (8), dan dilanjutkan dengan materi Jurus sambut serta teknik jual beli (serang bela) yang semuanya berjumlah 80 jurus. Pak TB. Bambang selain mengadakan pelatihan regular juga menerima murid privat tentunya bagi mereka yang hendak belajar harus mengikuti ritual penerimaan perguruan terlebih dahulu, di jamin pada aplikasi pertarungan “kalo tidak jatuh terlentang si lawan ya tengkurep” katanya di sambut tertawa anggota forum yang ngobrol bareng beliau.

Melihat perkembangan pencak silat di Indonesia yang semakin kritis serta keberadaan Beladiri Betawi yang mulai terkikis dan terancam punah, Cingkrik goning pun pernah mengalami kevakuman selama ± 14 tahun kata praktisi beladiri betawi yang telah mendalami sejak Tahun 1966 ini, mempunyai harapan “…bahwasanya generasi muda bangsa supaya lebih giat, percaya diri dan hendaknya bersedia untuk lebih menonjolkan beladiri negeri sendiri…” karena tidak lain melalui generasi mudalah kelestarian pencak silat budaya bangsa Indonesia ini akan maju atau mundur nantinya.

by : masezra danulana

Posted by Daeng Hidayat at 11:42:07 | Permalink | No Comments »

About Cingkrik Goning-Part 1

Sabtu, 07 Oktober 2006
Ingat Si Pitung? Tokoh jagoan Betawi tempo dulu itu pernah ngetop lewat film yang dibintangi aktor laga Dicky Zulkarnaen. Kalau banyak orang mengenal perampok baik hati itu, sebaliknya tak banyak yang tahu apa itu Cingkrik.

Cingkrik merupakan salah satu aliran silat Betawi. Karena beberapa gerakan utama dalam aliran silat ini adalah berlompatan dengan satu kaki (orang Betawi menyebutnya Jejingkrikan), silat ini disebut Jingkrik atau Cingkrik. Cingkrik inilah yang dipercaya menjadi “mainan” Si Pitung. Dalam perkembangannya, Cingkrik terpisah jadi beberapa aliran yang namanya diciptakan oleh orang yang mengajarkannya. Sampai saat ini ada dua aliran Cingkrik, yakni Cingkrik Sinan dan Cingkrik Goning.

Perbedaan utama kedua aliran tersebut adalah Sinan tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga tenaga dalam. Sedangkan Goning mengandalkan aplikasi teknik fisik semata. “Ini menjadi salah satu kelebihan aliran kami, yakni bisa dipelajari oleh semua orang,” kata Tubagus Bambang Sudrajat, 52 tahun, ahli waris aliran Cingkrik Goning.

Adalah Engkong Goning, bernama asli Ainin bin Urim, yang mendirikan aliran ini. Engkong, lahir pada 1895 dan wafat pada 1975, mengajarkan ilmu silat Goning kepada beberapa orang di Rawa Belong, Kebon Jeruk, dan Jembatan Dua, Harmoni.

Salah satu murid Engkong adalah Usup Utai, yang mengembangkan aliran silat ini ke daerah Grogol. Usup Utai, sebelum meninggal pada 1993, mewariskan ajaran itu kepada Bambang Sudrajat, yang elestarikannya sampai sekarang.

Ciri khas aliran Goning, menurut H. Nizam, salah satu murid Cingkrik Goning, adalah menggunakan satu kaki sebagai tendangan pamungkas. “Tangan digunakan untuk meladeni serangan lawan,” katanya. Begitu lawan jatuh, diselesaikan dengan tendangan kaki.

Selain itu, Cingkrik Goning sangat mengandalkan kecepatan. “Tidak ada hitungan gerakan lambat seperti di aliran lain,” katanya. Begitu menerima serangan, dalam hitungan detik harus dilakukan balasan dan braak, lawan sudah harus jatuh ke tanah.

Teknik bantingan menjadi kelebihan lain dari aliran silat Goning. Dihitung-hitung ada sekitar 80 teknik bantingan yang bisa dikuasai jika ditekuni hingga tingkatan tertinggi.

Sebagai anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Cingkrik Goning mengaplikasi sistem tingkatan. Mulai dari awal belajar sampai mendapat abuk merah, memakan waktu maksimal 7 tahun. Selama itu murid hanya diajari teknik jurus untuk menerima serangan. Setelah itu, baru belajar teknik bantingan secara berpasangan yang disebut “Sambut”.

Pada tingkatan terakhir barulah diajarkan teknik serangan yang disebut “jual-beli”. Pada level ini murid diajarkan menyerang dan melakukan balasan terhadap serangan balik lawan. “Jadi kita yang menyerang, kita yang menang,” kata Bambang.

Selain di Bekasi, pusat latihan Cingkrik Goning ada di Padepokan Pencak Silat Indonesia di Pondok Gede. Mereka berlatih tiap Sabtu sore. Dua bulan lalu, kabar mengejutkan datang dari Belanda. Seorang Indonesia bernama Herry Masfar, yang sekarang tinggal di Amsterdam, mengaku pernah belajar Cingkrik Goning.

Masfar mengaku belajar Cingkrik Goning dari guru silat bernama Rochimin, yang mungkin adalah murid Engkong di daerah Kebon Jeruk sekitar 1950-an. Sejak 1960-an, Masfar tinggal di Amsterdam dan mulai mengajarkan ilmu silatnya, termasuk kepada pasukan marinir di pusat pendidikan marinir Belanda di Den Helder.

Rencananya, Desember ini, mereka akan datang untuk belajar dari sumber asli Cingkrik Goning di Indonesia. Kalau marinir Belanda tertarik belajar ilmu silat ini, mengapa kita tidak? AMAL IHSAN - TEMPO

Posted by Daeng Hidayat at 11:40:40 | Permalink | Comments (1) »