Friday, March 30, 2007

Bikin Soto Betawi

Resepnye….

Soto Betawi

Bahan: 

¼ kg daging sapi

400 ml             santan

2 lbr                 daun salam

1 btg               sereh, ambil bagian putihnya, memarkan

3 cm               lengkuas, memarkan

4 lbr                 daun jeruk

 

Haluskan: 

4 btr                bawang merah                     

4 siung            bawang putih

8 btr                kemiri

2 cm               kunyit

garam dan merica

 

Pelengkap:

2 bh                tomat, iris delapan memanjang

2 bh                telur rebus, iris enam memanjang

1 bh                jeruk nipis, iris sisinya

100 gr              emping goreng

                       sambal rebus

 Cara membuatnya:

  •          Daging sapi dipotong porsi makan.
  •          Tumis bumbu halus sebentar, masukkan daging, sereh,lengkuas dan daun   

                   jeruk hingga daging berubah warna

  •          Masukkan santan aduk hingga mendidih dan masak hingga daging empuk
  •          Sajikan soto dengan pelengkapnya.

Kalo udah selesai Cobain dech rasanya…… dijamin pasti enak,. kalo emang gak enak juga

coba lakuin pantangan - pantangan berikut ini….:

1. 2 Jam Sebelum masak, dilarang minum-minuman keras apalagi yang kadar alkoholnya tinggi dijamin bukan soto nyang jadi tapi bisa berubah jadi pepes daging

2. Pas lagi masak dilarang tidur apalagi minum pil tidur…. ntar takutnye kebakaran

3.  Nyang paling penting gunain alat masak nyang bersih, biar steril. begini-gini kite cinta ma kebersihan…

Kalo emang gak enak juga,…. dari pada pusing en buang-buang duit buat “experiment” mending lw beli aja soto yang udah jadi di warung ma sijo……he…3#x. 

Wassalam,… and met mencoba resep emak gw 

Posted by Daeng Hidayat at 12:00:16 | Permalink | No Comments »

Palang Pintu Betawie

Salam Silat……

Penca (plus silat silat lidah dengan pantun) digunakan dalam pernikahan betawi melalui apa yang disebut dengan : buka palang pintu..

lihat liputannya.

 

 

 

06/06/2004 08:55

Dinas Pariwisata Pemrov DKI Jakarta menggelar upacara perkawinan adat Betawi untuk memperkenalkan dan mempertahankan tradisi budaya Si Pitung. Uniknya tradisi pernikahan ini mewajibkan prosesi buka palang pintu.

 

Liputan6.com, Jakarta: Para pengunjung Anjungan Daerah Khusus Ibukota, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu (5/6) malam, tampak bersuka ria menikmati acara yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Jakarta. Acara khusus itu adalah upacara perkawinan adat Betawi. Hal itu sengaja dilakukan untuk memperkenalkan dan mempertahankan tradisi budaya Betawi.

Pihak keluarga perempuan telah mempersiapkan diri sebelum keluarga calon pengantin pria meminangnya. Biasanya pihak pria yang membawa sejumlah makanan untuk ungkapan sukacita disambut dengan gembira oleh keluarga calon istrinya. Lewat proses lamaran inilah ditentukan pelaksanaan pesta pernikahan. Pada umumnya, pesta pernikahan dilakukan di rumah mempelai wanita.

Upacara pernikahan diawali dengan arak-arakkan calon pengantin pria menuju ke rumah calon istrinya. Dalam arak-arakan itu, selain iringan rebana ketimpring juga diikuti barisan sejumlah kerabat yang membawa sejumlah seserahan mulai dari roti buaya yang melambangkan kesetiaan abadi, sayur-mayur, uang, jajanan khas Betawi, dan pakaian. Selain itu, perlengkapan kamar pengantin yang berat seperti tempat tidur serta lemari juga dibawa dalam prosesi arak-arakkan.

Di dalam rombongan, tidak ketinggalan kedua orang tua calon pengantin pria turut serta. Selain itu ada juru bicara, qori atau pembaca Alquran, dan seorang ustad atau guru agama. Akhirnya rombongan tiba di rumah calon pengantin perempuan. Namun, tidak semudah itu calon pengantin pria dapat menemui pasangannya. Para jagoan calon pengantin pria harus melawan jagoan wanita dan mengalahkannya. Para penjaga pintu mempelai wanita kemudian membuka percakapan dengan sejumlah pantun. Selanjutnya, perwakilan mempelai pria membalas pantun tersebut. Setelah itu, seorang wakil pengantin perempuan menantang adu silat salah satu orang dari pihak lelaki.

Prosesi tersebut menyimbolkan upaya keras mempelai laki-laki untuk menikah dengan sang pujaan hati. Uniknya, setiap petarungan silat, pihak mempelai wanita pasti dikalahkan oleh jagoan calon pengantin pria. Dalam tradisi masyarakat Betawi, upacara ini disebut buka palang pintu.

Acara berlanjut dengan pelaksanaan akad nikah. Kemudian dilanjutkan dengan penjemputan pengantin wanita. Pengantin pria memberikan seserahan dan sirih dare yang di dalamnya berisi uang, gambir, pala, kapur, serta pinang dan membuka cadar pengantin wanita. Barang-barang tersebut melambangkan pahit, getir, dan manisnya kehidupan berumah tangga. Dengan kata lain, suami istri harus bisa menerima suka dan duka dari sebuah perkawinan.

Dari gaya pakaian pengantin Betawi, ada dua budaya asing yang melekat dalam prosesi pernikahan. Pengantin pria dipengaruhi budaya Arab. Sedangkan busana pengantin wanita dipengaruhi adat Tionghoa. Demikian pula dengan musik yang meramaikan pesta pernikahan. Berdasar silsilah zaman dahulu, pada dasarnya Betawi didominasi dua budaya tersebut, selain tentunya Portugis dan etnis lainnya seperti Sunda.(DNP/Frans Ambudi dan Benny Souissa)

 

Posted by Daeng Hidayat at 11:40:45 | Permalink | No Comments »

Palang Pintu

Salam Silat……

Penca  (plus silat silat lidah dengan pantun) digunakan dalam pernikahan betawi melalui apa yang disebut dengan : buka palang pintu..

lihat liputannya.

 

 

 

06/06/2004 08:55

Dinas Pariwisata Pemrov DKI Jakarta menggelar upacara perkawinan adat Betawi untuk memperkenalkan dan mempertahankan tradisi budaya Si Pitung. Uniknya tradisi pernikahan ini mewajibkan prosesi buka palang pintu.

 

Liputan6.com, Jakarta: Para pengunjung Anjungan Daerah Khusus Ibukota, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu (5/6) malam, tampak bersuka ria menikmati acara yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Jakarta. Acara khusus itu adalah upacara perkawinan adat Betawi. Hal itu sengaja dilakukan untuk memperkenalkan dan mempertahankan tradisi budaya Betawi.

Pihak keluarga perempuan telah mempersiapkan diri sebelum keluarga calon pengantin pria meminangnya. Biasanya pihak pria yang membawa sejumlah makanan untuk ungkapan sukacita disambut dengan gembira oleh keluarga calon istrinya. Lewat proses lamaran inilah ditentukan pelaksanaan pesta pernikahan. Pada umumnya, pesta pernikahan dilakukan di rumah mempelai wanita.

Upacara pernikahan diawali dengan arak-arakkan calon pengantin pria menuju ke rumah calon istrinya. Dalam arak-arakan itu, selain iringan rebana ketimpring juga diikuti barisan sejumlah kerabat yang membawa sejumlah seserahan mulai dari roti buaya yang melambangkan kesetiaan abadi, sayur-mayur, uang, jajanan khas Betawi, dan pakaian. Selain itu, perlengkapan kamar pengantin yang berat seperti tempat tidur serta lemari juga dibawa dalam prosesi arak-arakkan.

Di dalam rombongan, tidak ketinggalan kedua orang tua calon pengantin pria turut serta. Selain itu ada juru bicara, qori atau pembaca Alquran, dan seorang ustad atau guru agama. Akhirnya rombongan tiba di rumah calon pengantin perempuan. Namun, tidak semudah itu calon pengantin pria dapat menemui pasangannya. Para jagoan calon pengantin pria harus melawan jagoan wanita dan mengalahkannya. Para penjaga pintu mempelai wanita kemudian membuka percakapan dengan sejumlah pantun. Selanjutnya, perwakilan mempelai pria membalas pantun tersebut. Setelah itu, seorang wakil pengantin perempuan menantang adu silat salah satu orang dari pihak lelaki.

Prosesi tersebut menyimbolkan upaya keras mempelai laki-laki untuk menikah dengan sang pujaan hati. Uniknya, setiap petarungan silat, pihak mempelai wanita pasti dikalahkan oleh jagoan calon pengantin pria. Dalam tradisi masyarakat Betawi, upacara ini disebut buka palang pintu.

Acara berlanjut dengan pelaksanaan akad nikah. Kemudian dilanjutkan dengan penjemputan pengantin wanita. Pengantin pria memberikan seserahan dan sirih dare yang di dalamnya berisi uang, gambir, pala, kapur, serta pinang dan membuka cadar pengantin wanita. Barang-barang tersebut melambangkan pahit, getir, dan manisnya kehidupan berumah tangga. Dengan kata lain, suami istri harus bisa menerima suka dan duka dari sebuah perkawinan.

Dari gaya pakaian pengantin Betawi, ada dua budaya asing yang melekat dalam prosesi pernikahan. Pengantin pria dipengaruhi budaya Arab. Sedangkan busana pengantin wanita dipengaruhi adat Tionghoa. Demikian pula dengan musik yang meramaikan pesta pernikahan. Berdasar silsilah zaman dahulu, pada dasarnya Betawi didominasi dua budaya tersebut, selain tentunya Portugis dan etnis lainnya seperti Sunda.(DNP/Frans Ambudi dan Benny Souissa)

 

Posted by Daeng Hidayat at 11:40:31 | Permalink | No Comments »

KH.M.Yusuf Seorang Aulia dan Sesepuh Betawi Depok

Kong Usup Berikan Tongkat Komando kepada Bung Karno

Oleh
Stevani Elisabeth

Depok-Kota Depok memiliki cukup banyak situs bersejarah yang tak jarang mengandung unsur supranatural. Salah satunya adalah makam KH Muhammad Yusuf yang terletak di areal Masjid Jami KH Muhammad Yusuf di perumahan elite Pesona Khayangan Depok.
KH Muhammad Yusuf yang dikenal dengan sebutan Kong Usup adalah guru dari pendekar Betawi, Si Pitung. Konon, Si Pitung sering menyusuri sungai Ciliwung dengan menggunakan getek (perahu dari bambu) menuju Depok untuk belajar silat di padepokan silat Sinar Cikini.
Kong Usup juga termasuk penasihat spiritual dari Presiden pertama Ir Soekarno (Bung Karno). Tak jarang dia dijemput oleh supir pribadi Soekarno, Muhammad Arif, yang ketika itu tinggal di Jalan Raden Saleh II Jakarta Pusat. Bahkan ketika Bu Fat (Fatmawati Soekarno) melahirkan Guruh Soekarno, Kong Usup sedang berada di rumah Soekarno sebab saat itu sedang ada rapat perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Sebagai penasihat supranatural kepresidenan ketika itu, Kong Usup sempat memberikan tongkat komando kepada Soekarno. Kalau kita melihat tongkat yang sering dibawa Soekarno, itu tongkat dari Kong Usup.
Nama KH Muhammad Yusuf ini juga tak lepas dari perjuangannya melawan kolonial Belanda di Batavia (Jakarta). Pada tahun 1941, Kong Usup, yang merupakan Ketua Umum Hisbullah, menyerang batalyon 10 lapangan Banteng yang merupakan markas Belanda di Batavia. Dalam penyerangan ini, dia dibantu Hisbullah, pimpinan KH Darif dari Klender.
Saat itu dia orang yang dicari pihak Belanda. Belanda yang licik berhasil menyandera kedua orang tua Kong Usup, yaitu Kong Sanen dan Putri Kecil. Kong Usup akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda dengan syarat kedua orang tuanya dibebaskan. Dia pun sempat menjalani hukuman di Rutan Cipinang Jakarta sebagai tahanan politik kemerdekaan RI.

Keturunan Padjajaran
Kong Usup sendiri masih keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Ibu Kong Usup bernama Putri Kecil merupakan anak dari Pangeran Kuflu. Pangeran Kuflu merupakan anak dari Putri Deknor. Putri Deknor merupakan anak dari Raden Saleh dan Raden Saleh adalah anak dari Pangeran Jayakarta.
Pangeran Jayakarta merupakan anak dari Raden Syarif Hidayatullah. Ibu dari Raden Syarif Hidayatullah bernama Nyi Endang Geulis, merupakan anak dari Prabu Kiansantang. Prabu Kiansantang merupakan putra dari Prabu Siliwangi, raja Pajajaran.
Kong Usup lahir pada tahun 1873 dan wafat pada 5 Janurai 1971. Masa kecilnya dihabiskan di daerah Cikini. Dia sempat mendirikan padepokan silat dengan nama Sinar Cikini. Ilmu silatnya didapat dari KH Muhiddin Parung Sapi Jasinga yang merupakan murid dari Syech Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya.
Syech Abdul Muhyi merupakan murid dari Syech Abdul Rauf Al-Bagdadi yang berguru pada Syech Abdul Qodir Jaelani Al-Bagdadi (wali kutub).
Kong Usup pindah ke Depok pada tahun 1890 dan menikah dengan Hj Aisyah yang asli dari Kampung Serap, Sukmajaya Depok. Mereka dikaruniai 3 anak yakni Hj Hapsah, Hj Aminah dan H Abdullah. Dia juga mendapat hibah tanah seluas 6,5 hektare dari masyarakat Depok. Tanah seluas itu digunakan sebagai tempat tinggal dan padepokan Sinar Cikini.
Pimpinan Yayasan As-Syifa, Ustadz Fachruddin Sholeh mengatakan makam Kong Usup ini sempat beberapa kali mau dipindahkan terkait adanya beberapa proyek pembangunan di Kota Depok. Pada tahun 1975 makam ini ingin dipindahkan karena terkena proyek pipa gas alam, namun tidak berhasil dipindahkan.
Tahun 1997 kembali makam ini harus dipindahkan karena terkena proyek pembangunan rumah mewah Pesona Khayangan, tetapi upaya pemindahan makam ini pun tidak berhasil.
“Empat beko yang digunakan untuk menguruk tanah tidak berhasil menyentuh tanah. Makam Kong Usup ini dijaga oleh 90 sancang (bala tentara) yang dipimpin oleh Prabu Sangkawang dan Prabu Galuh Wangi,” ujarnya.

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003

Posted by Daeng Hidayat at 11:26:09 | Permalink | Comments (3)